
siaran-post.com ||Di tengah hiruk-pikuk arus mudik yang didominasi kendaraan, terselip sebuah kisah memilukan sekaligus luar biasa dari seorang pedagang kecil bernama Asep. Karena dagangannya sepi pembeli dan tidak memiliki uang sepeser pun untuk ongkos bus, pria asal Ciamis ini mengambil keputusan ekstrem: pulang kampung dengan berjalan kaki dari Bandung menuju Ciamis, menempuh jarak sekitar 150 Kilometer melintasi jalur perbukitan yang terjal.
Secara teknis, perjalanan Asep adalah uji ketahanan fisik yang luar biasa. Ia berangkat dari Bandung hanya dengan membawa tas ransel berisi pakaian dan satu kantong plastik besar berisi cilok sisa dagangannya yang tidak laku terjual. Cilok dingin itulah yang menjadi sumber energi utamanya selama di perjalanan. Saat perutnya keroncongan di tengah aspal panas Nagreg atau dinginnya malam di tanjakan Gentong, Asep hanya mengandalkan butiran tepung tapioka tersebut untuk menyambung nyawa agar langkah kakinya tidak terhenti.
Detail perjuangan Asep menggambarkan realita pahit ekonomi akar rumput. Ia harus berjalan kaki selama berhari-hari, menerjang hujan dan panas, serta tidur di emperan toko atau masjid saat kelelahan melanda. Kecepatan jalannya tentu tidak seberapa, namun dorongan psikologis untuk bertemu anak dan istri di rumah menjadi “bahan bakar” yang jauh lebih kuat daripada rasa sakit di telapak kakinya yang mulai mel3pvh akibat gesekan alas kaki yang tipis.
Kisah Asep menjadi viral setelah beberapa pengendara dan petugas di jalur mudik menemukannya sedang beristirahat dengan raut wajah kelelahan yang amat sangat. Banyak yang terenyuh melihat konsistensinya membawa sisa dagangan sebagai bekal tunggal. Asep membuktikan bahwa bagi sebagian orang, mudik bukan tentang kenyamanan kursi bus atau kereta api, melainkan tentang pengorbanan fisik yang luar biasa demi sebuah kata: “Pulang”.
Asep adalah representasi dari ribuan pejuang nafkah yang tak menyerah pada keadaan. Meskipun dompetnya kosong, semangatnya untuk kembali ke pelukan keluarga tetap penuh. Perjalanannya dari Bandung ke Ciamis bukan sekadar perpindahan lokasi, melainkan sebuah ziarah cinta yang membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak akan pernah bisa menghentikan langkah kaki seorang ayah yang rindu akan rumah.(Red)
